Sahabat, setelah beberapa lama waktu berjalan, baru saat ini saya bisa melanjutkan artikel Seri Qadla dan Qadar. Tulisan ke-3 ini sesi terakhir dari tiga tulisan mengenai Qadla danQadar.
Sahabat yang dirahmati Allah, walaupun khasiat naluri dan kebutuhan jasmani itu berasal dari Allah SWT serta potensinya untuk melakukan baik atau buruk juga berasal dari Allah SWT, namun Allah SWT tidak menciptakan khasiat-khasiat itu dalam bentuk yang dapat memaksa manusia untuk melakukan suatu perbuatan, baik perbuatan itu diridloi Allah atau dimurkaiNya.
Khasiat membakar yang terdapat pada api, misalnya tidak diciptakan untuk memaksa manusia melakukan pembakaran,baik yang diridloi Allah atau dibenciNya,melainkan dijadikan Allah agar bisa berfungsi apabila digunakan oleh manusia dalam bentuk yang tepat.
Demikian juga pada saat Allah menciptakan manusia berikut naluri dan kebutuhan jasmaninya, seraya diciptakan pula akal yang mampu membeda-mbedakan. Maka diberikanNya pula kepada manusia kebabasan memilih untuk melakukan perbuatan atau meninggalkannya tanpa pernah dipaksa. Allah tidak pernah menciptakan khasiat-khasiat benda , naluri atau kebutuhan jasmani sebagai suatu yang dapat memaksa manusia untuk melakukan suatu perbuatan atau meninggalkannya. Karena itu manusia bebas melakukan perbuatan atau meninggalkannya dengan menggunakan akalnya – yang memang mampu untuk membeda-mbedakan dan telah dijadikan sebagai sandaran (manath) pembebanan kewajiban syariat.
Berdasarkan hal ini, Allah menyediakan pahala bagi mereka yang melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi laranganNya, dan disediakan siksa bagi yang melanggar perintah Allah dan laranganNya, ketika manusia memenuhi kebutuhan naluri dan kebutuhan jasmaninya.
Jadi sahabat, balasan terhadap perbuatan semacam ini merupakan balasan yang haq dan adil, karena manusia bebas memilih tanpa ada paksaan apapun. Perkara ini tidak ada kaitannya dengan Qadla dan Qadar.Yang difokuskan adalah tindakan si hamba sendiri dalam melaksanakan suatu perbuatan secara sukarela. Dengan demikian manusia bertanggung jawab penuh atas perbuatannya, sebagaimana firman Allah:
“Setiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.”
( QS Al Mudatstsir<74>: 38 )
Sahabat yang budiman, mengenai ilmu Allah berkenaan dengan perbuatan manusia, sesungguhnya ilmuNya tidak memaksa manusia untuk melakukan suatu perbuatan. Seseorang yang telah melakukan sesuatu bukan karena didorong oleh ilmu Allah. Tentang adanya tulisan di dalam Lauhul Maffudz, tidak lain merupakan perlambang betapa Maha Luasnya Ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu.
Sahabat yang saya sayangi, Iradah Allah pun tidak memaksa manusia untuk melakukan suatu perbuatan. Yang dimaksud:
Iradah Allah adalah tidak akan terjadi sesuatu apapun di malakut (alam kekuasaan)Nya kecuali atas kehendakNya.
Dengan kata lain, tidak ada sesuatu di alam ciptaanNya ini yang kejadiannya berlawanan dengan kehendakNya. Jadi, apabila manusia melakukan suatu perbuatan tanpa dicegah Allah, tanpa dipaksa, dan ia dibiarkan melakukan secara sukarela, maka pada hakikatnya perbuatan tersebut berdasarkan Iradah Allah, bukan berlawanan dengan kehendakNya. Perbuatan tersebut dilakukan manusia secara sukarela berdasarkan pilihannya sendiri. Sedangkan Iradah Allah tidak memaksakan untuk berbuat seperti itu.
Demikianlah sahabat, penjelasan tentang Qadla dan Qadar. Pembahasan masalah ini insya’Allah dapat mendorong manusia untuk melakukan kebenaran dan kebaikan dan menjauhi kebatilan dan keburukan, selama ia sadar bahwa Allah SWT senantiasa mengawasinya dan kelak akan meminta pertanggung jawabannya atas sikap dan perbuatan yang secara sukarela dipilihnya.
sahabat yang dirahmatiNya, dengan mendalami materi ini semoga kita akan selalu menyadari pula bahwa Allah SWT telah memberikan kebabasan kepada kita untuk memilih melakukan suatu perbuatan atau meninggalkannya. Apabila kita tidak pandai-pandai mempergunakan hak pilihNya itu, tentulah kita kelak akan terperosok ke dalam jahanam, memperoleh siksa yang pedih. (Na’udzubillah)
Ketahuilah sahabat, seorang Mukmin sejati yang memahami hakikat Qadla dan Qadar, hakikat akal dan hakikat nikmat hak pilih yang telah dikaruniakan Allah, akan kita dapati bahwa ia akan waspada dan takut kepada Allah SWT. Rasa takut itu akan memotivasi diri mencari ilmu untuk lebih mengenal Allah sehingga dengan mengenal Allah itu atas KehendakNya ia akan peroleh nikmat mencintai Allah. Dengan rasa cinta kepada Allah, membuatnya senantiasa berusaha untuk melaksanakan seluruh (secara kaffah/totalitas) perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-laranganNya. bahkan lebih dari itu, setiap ikhtiar, doa, sikap,langkah tindakan serta perbuatannya ia tujukan semata hanya peroleh keridlaan Allah SWT.
Demikian Sahabat Tausyiyah terakhir oleh Syekh Taqiyuddin An Nabhani mengenai Qadla dan Qadar. Mohon memberikan Komentar untuk pendalaman materi atau pertanyaan. Terima kasih.
Bisa Juga Diakses Dengan Kata Kunci:
Related posts:
dengan membaca artikel ini bisa menbuat menjadikan sebuah pencerahan bagi saya untuk lebih bertanggung jawab dalam menjalankan hidup ini.
Refresing pemikiran islam, saya dapat materi ini saat kuliah dibogor, thanks dah share
semua ada aturannya dan ada hukumannya… tak sedikitpun terlewatkan.. artikel yang membuat pencerahan sesunguhnya…
thank.. keep seepirit
@Zaiful Anwar –>
Anda benar, telah menciptakan brand image diri sebagai manusia yang berkualitas.
@Triagung.com –>
Benar, materi ini saya dapat dari Ustadz MR Kurnia, Dosen IPB.
Terima kasih
@Torik –>
Iya Mas Torik, Manusia yang bertanggung jawab adalah mereka yang taat kepada Peraturan Allah secara totalitas.
Terima kasih.