Sahabat online, Surat Cinta ke-5 kepada ananda Muhammad Naufal, Pemikiran Cemerlang : Jalan Menuju Iman, menancapkan keimanan bahwa hanyalah Allah Pencipta alam semesta beserta isinya, manusia dan kehidupan. Kemudian Allah SWT pulalah yang mengaturnya. Allah SWT bersifat Azali (tidak berawal dan tidak berakhir) dan Wajibul Wujud (Wajib Adanya). Perasaan tidak boleh dijadikan sandaran dalam beriman Ananda Naufal, iman kepada adanya Pencipta Yang Maha Pengatur merupakan hal yang fitri pada manusia. Fitri bukan berarti iman yang timbul dari perasaan yang berasal dari hati nurani belaka. Karena cara seperti ini sangatlah riskan. Sebab dengan perasaan hati, manusia sering menambah-nambah keimanannya, yang jauh dari hakekat kebenaran Islam. Sehingga tanpa sadar dengan perasaan, keimanannya tererosi kekufuran dan kesesatan. Takhayul, Bid’ah dan Khurafat adalah tidak lain akibat kesalahan perasaan hati ini. Sedangkan Islam tidak membiarkan perasaan hati sebagai satu-satunya jalan menuju iman. Karena itu Islam menegaskan agar senantiasa menggunakan akal pikiran disamping adanya perasaan hati. Islam mewajibkan setiap umatnya untuk menggunakan akal dalam beriman kepada Allah SWT, serta melarang menambah-nambah atau pun mengurangi dalam masalah akidah. Untuk itulah Islam telah menjadikan akal sebagai timbangan dalam beriman kepada Allah, sebagaimana firman Allah SWT (terjemahan) :
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS Ali Imran <3> : 190)
Ananda Naufal, berdasarkan ayat tersebut di atas, adalah mutlak bagi seorang Muslim senantiasa bertahkim (merujuk) kepada akalnya secara mutlak dalam beriman kepada (adanya) Allah SWT. Semua itu ditujukan kepada potensi akal manusia untuk diajak berpikir dan bertafakkur, sehingga imannya betul-betul muncul dari akal dan bukti yang nyata. Disamping untuk memperingatkan kepada manusia agar tidak mengambil jalan yang telah ditempuh oleh nenek moyang mereka, tanpa meneliti dan menguji kembali sejauh mana kebenarannya. Inilah iman yang diserukan oleh Islam. Iman yang bukanlah seperti imannya orang-orang lemah, melainkan iman yang berpijak pada pemikiran yang cemerlang dan meyakinkan, yang senantiasa mengamati (alam sekitar) berpikir dan berpikir. Melalui pengamatan dan perenungannya, akal sampai kepada keyakinan tentang adanya Allah Yang Maha Kuasa. Keterbatasan akal justru memperkuat iman kepada Allah SWT Ananda Muhammad Naufal yang umi rindu, kendati wajib manusia menggunakan akalnya dalam mencapai iman kepada Allah SWT, namun tidak mungkin ia menjangkau apa yang di luar batas kemampuan indera dan akalnya. sebab akal manusia bersifat terbatas. Terbatas pula kekuatannya sekalipun meningkat dan bertambah sampai batas yang tidak bisa dilampauinya, terbatas pula jangkauannya. Berdasarkan kenyataan ini, maka perlu diingat bahwa akal tidak mampu memahami Zat Allah dan hakekatNya. Sebab, Allah SWT berada di luar ketiga unsur pokok (alam semesta, manusia dan hidup). Dengan kata lain, akal pikiran memiliki kemampuan dan peran amat terbatas. Seharusnya keterbatasan akal justru menjadi faktor penguat iman kepada Allah SWT, bukan sebaliknya malah menjadi penyebab keragu-raguan dan kebimbangan. Ananda, sebagaimana kita ketahui, bahwa fitrah manusia adalah senantiasa mensucikan Penciptanya. Aktivitas ini yang sering disebut ibadah, yang berfungsi sebagai tali penghubung antara manusia dengan Penciptanya. Apabila hubungan ini dibiarkan begitu saja tanpa aturan, tentu akan menimbulkan kekacauan ibadah. Bahkan dapat menimbulkan terjadinya penyembahan kepada selain Pencipta. Jadi, harus ada aturan tertentu yang mengatur hubungan ini dengan peraturan yang benar. hanya saja, aturan ini tidak boleh datang dari manusia. Sebab manusia tidak mampu memahami hakekat Al Khaliq sehingga dapat meletakkan aturan antara dirinya dengan Pencipta. Maka aturan ini harus datang dari Al Khaliq. Karena aturan ini harus sampai ke tangan manusia, maka Rasul yang menyampaikan agama Allah kepada umat manusia. Aturan Al Khaliq berupa Al Qur’an dan As Sunnah yang dibawa Rasulullah saw Ananda yang dirahmati Allah SWT, jika kita telah beriman kepada Allah SWT yang memiliki sifat-sifat ketuhanan, maka wajib pula bagi kita untuk beriman terhadap apa saja yang dikabarkan olehNya. Baik hal itu dapat dijangkau oleh akal maupun tidak, karena semuanya dikabarkan oleh Allah SWT. Dari sini kita wajib beriman kepada Hari Kebangkitan dan Pengumpulan di Padang Mahsyar. Surga dan Neraka, hisab dan siksa. Juga beriman terhadap adanya malaikat, jin dan setan, serta apa saja yang telah dikabarkan oleh al Qur’an dan Hadist mutawattir. Jadi setiap Muslim beriman kepada Allah SWT dengan berlandaskan Akidah Islam yang qath’i (pasti). Ananda Naufal, dengan aqidah yang qath’i yang meyakini bahwa penciptaan dan perintah-perintah Allah merupakan pokok pangkal adanya kehidupan dunia, sedangkan perhitungan amal perbuatan manusia atas apa yang telah dilakukannya di dunia merupakan mata rantai dengan kehidupan setelah dunia. Manusia telah terikat dengan hubungan tersebut, karena itu manusia wajib berjalan dan menikmati kehidupan di dunia sesuai dengan peraturan Allah SWT, dan wajib meyakini bahwa ia akan dihisab di hari Kiamat nanti atas seluruh perbuatan yang telah dilakukannya di dunia. Dengan demikian, terurailah problematika pokok secara sempurna dengan akidah Islamiyah. Ananda Naufal yang cendekia, ketika manusia telah berhasil memecahkan problematika pokok perkara ini maka ia dapat melangkah pada pemikiran selanjutnya tentang kehidupan dunia serta mewujudkan mafahim (pemikiran) yang benar dan produktif untuk kemaslahatan umat manusia di dunia. Solusi inilah yang menjadi dasar bagi berdirinya suatu mabda’ (ideologi) yang dijadikan jalan menuju kebangkitan peradaban (hadarah) yang harus sesuai dengan fikrah (ide dasar) dan thariqah (metode pelaksanaan fikrah) — Dengan Akidah Islam, kebangkitan peradaban umat akan tercipta dan memperoleh tempat di hati umat dan diemban oleh manusia di seluruh dunia. Ananda, ketika Akidah Islam pada diri manusia menjadikan mereka memiliki sikap penyerahan dan penerimaan secara total terhadap segala yang datang dari sisiNya, digambarkan dalam QS An Nisa’ <4> ayat 65) yang artinya :
“Maka demi Rabmu, mereka itu (pada hakekatnya) tidak beriman sebelum mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa di hati mereka suatu keberatan terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima (pasrah) dengan sepenuhnya.”
Demikianlah Surat Cinta ke-6 kepada Ananda Muhammad Naufal, bahwa hanya dengan Akidah Islam umat akan memperoleh kebangkitan peradaban dan juga untuk kemaslahatan umat manusia di dunia – Rahmatan Lil’Alamin. Jangan lupa sahabat beri komentar, setelah habis membaca. Salam kemenangan
Bisa Juga Diakses Dengan Kata Kunci:
Related posts:


Semoga ananda Naufal termasuk orang-orang dan menjadi anak shalih. Amin. (QS Ali Imran:114, “Mereka beriman kepada Allah dan Hari Penghabisan, mereka menyeru kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar dan besegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; Mereka itu termasuk orang-orang yang shalih.”)
Telah saatnya membentengi generasi muda dengan Aqidah Islam dan mewariskan kepemimpinan Nabi Muhammad saw yang shiddiq (jujur dan benar dalam tekad dan sikap), amanah (penuh tanggung jawab), fathonah (cerdas, profesional dan hikmah) dan tabligh (memiliki kemampuan komunikasi yang handal)
Assalamu’alaikum,
Berbahagia sekali Naufal punya ibu yang begitu menyayangi. Sebuah surat yang mudah-mudahan bisa membawa anak-anak muda memiliki aqidah yang prima dalam kebangkitan peradaban yang Islami.
Sukses buat Ibu dan naufal.
Terima kasih.
Salam
@Bapak Abdul Aziz
Iya Pak Aziz,dengan Surat Cinta bersambung — penanaman Aqidah Islam secara kaffah, semoga merupakan bagian ikhtiar kita secara maksimal membangun generasi mandiri … to Lead the World!
Terima kasih atas perhatian Bapak — atas semuanya.
@The Way To Win
Tepat sekali bu, Leadership Rasulullah SAW (Shiddiq, Amanah, Fathonah, Tabligh) harus diwariskan kepada generasi muda.
Insya’Allah untuk Surat-surat selanjutnya.
Terima kasih.
Peradaban Islam berdiri atas dasar iman kepada Alloh SWT, bahwasanya Dia telah menjadikan untuk alam semesta, manusia, dan hidup ini suatu aturan yang harus dipatuhi oleh masing-masing.
Jadi Peradaban islam berdiri di atas dasar Aqidah Islam yaitu beriman kepada Alloh, Malaikat-Malaikat-Nya, Rasul-Rasul-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Hari Kiamat, serta Qada dan Qadar.
I had errors viewing the site in Safari on the Mac, but I still loved the post.
Grateful dan thanks a lot of your loved it.
“Behold! in the creation of the heavens and the earth,and the alternation of night and day, there are indeed Signs for men of understanding.”(QS3:190)
Menuju Kebangkitan Peradaban : Surat Cinta Kepada Ananda Muhammad Naufal ke-6 | Web Hidup Mulia I was suggested this blog by my cousin. I am not sure whether this post is written by him as no one else know such detailed about my difficulty. You are incredible! Thanks! your article about Menuju Kebangkitan Peradaban : Surat Cinta Kepada Ananda Muhammad Naufal ke-6 | Web Hidup MuliaBest Regards SchaadAndy