Sahabat, tinggal beberapa atau sekitar 20 hari kita akan memasuki Bulan Suci Ramadhan. Bulan yang dirindukan oleh seluruh umat yang beriman. Bulan Ramadhan, bulan penuh berkah, maghfirah (ampunan) dan rahmat (kasih sayang). Bulan Ramadhan, bulan penuh dengan keutamaan dalam setiap malam,jam dan detiknya.
Bulan Suci Ramadhan juga momentum bulan muhasabah (instropeksi diri), muraqabah (senantiasa merasa dekat dan dalam pengawasan Alloh). Kemudian dalam bulan Ramadhan, Alloh akan melipat gandakan pahala-Nya, pula peluang bertobat bagi setiap insan di dunia.
Oleh karena itu Rasulullah saw dan para sahabatnya menyambut Bulan Suci Ramadhan dengan penuh suka cita dan kebahagiaan. Ramadhan bagaikan ‘air cinta’ yang dapat menghilangkan rasa dahaga dan kerinduan. Ramadhan adalah ‘energy drink’ yang dapat menambah energi spiritual paripurna. Kiranya puasa di bulan Ramadhan adalah penghentian seluruh hasrat yang bertentangan dengan hasrat Illahi.
Rasulullah dan para Sahabat juga begitu bersemangat menyambut datangnya Bulan Suci Ramadhan. Anas bin malik menuturkan bahwa Rasulullah saw saat memasuki bulan Rajab senantiasa berdoa
“Ya Alloh,berkailah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban,dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan.” (HR At Tirmidzi dan ad Darimi)
Berbagai persiapan dilakukan untuk menyambut tamu yang sangat istimewa ini. Sebelum Ramadhan tiba, Rasulullah saw senantiasa menyampaikan khotbahnya agar para sahabat benar-benar mempersiapkan diri menyambut datangnya bulan agung ini. Berbagai keutamaan Ramadhan diuraikan oleh Rasulullah saw agar tidak satu detikpun terlewatkan begitu saja tanpa ibadah kepada Alloh SWT (HR Abu Huzaimah).
Pada hari itu, nafas-nas menjadi tasbih, tidur menjadi ibadah, amal kebaikan diterima, dan doa-doa diterima pula.
Dalam khotbahnya Rasulullah mengingatkan kepada kita untuk senantiasa bermohon kepada Alloh SWT dan melaksanakan berbagai amal shalih.
“Celakalah orang yang tidak memperoleh ampunan Alloh pada bulan yang agung ini. Ingatlah dengan rasa lapar dan haus kalian,akan kelaparan dan kehausan pada Hari Kiamat. Bersedekahlah pada kaum fakir miskin, muliakanlah orang tua kalian, sayangilah yang muda, sambunglah tali persaudaraan kalian, jagalah lidah kalian,tahanlah pandangan kalian dari apa yang tidak halal kalian pandang,dan peliharalah pendengaran kalian dari apa yang tidak halal kalian dengarkan…”
“Kasihanilah oleh kalian anak-anak yatim,niscaya dikasihi manusia anak-anak yatim kalian. Bertobatlah kepada Alloh dari dosa-dosa kalian. Angkatlah tangan-tangan kalian untuk berdoa pada waktu selesai shalat kalian,karena waktu itulah saat-saat yang paling utama ketika Alloh Azza Wa Zalla memandang hamba-hamba-NYA dengan penuh kasih; Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-NYA, menyambut mereka ketika mereka memanggil-NYA,dan mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa kepada-NYA…”
“Wahai Manusia, sesungguhnya diri-diri kalian tergadai karena amal-amal kalian. Karena itu bebaskanlah diri kalian dengan istighfar. Punggung-punggung kalian berat karena beban dosa-dosa kalian. Karena itu,ringankanlah dengan memperpanjang sujud kalian.
Lalu Ali bin Abi Thalib berdiri dan berkata,”Ya Rasulullah, amalan apa yang paling utama pada bulan ini?”
Nabi saw menjawab,”Ya Abu Hasan, amalan yang paling utama pada bulan ini adalah menjaga diri dari apa-apa yang diharamkan Alloh.” (HR Ibnu Huzaimah)
Kualitas Shaum (Puasa) Rasulullah SAW
Dengan persiapan yang matang,kualitas shaum Rasulullah saw dan para Sahabat menjadi luar biasa. Rasulullah saw dan para sahabat menjalani ibadah shaum tidak sekedar menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa seperti makan,minum,dan berhubungan suami istri. Beliau dan para Sahabat bahkan sering menjalani shaum berbarengan dengan aktivitas tertinggi dalam ibadah, yakni jihad fisabilillah. Sejarah telah mencatat bahwa berbagai peperangan terjadi pada bulan Ramadhan. Perang badar Al Kubra terjadi pada 17 Ramadhan tahun ke-2 Hijriyah. Shaum yang mereka lakukan benar-benar menjadi ruhiah yang jauh melebihi dari kekuatan fisik, seperti Fath al Mekkah (Pembebasan Kota Mekah). Penaklukan Andalusia dibawah kepemimpinan Tariq bin Ziyad yang menandai Peradaban Islam terhadap kebangkitan dan pencerahan (Renaissance) bangsa-bangsa Eropa. Pembebasan Palestine oleh Shalahuddin Al Ayyubi dan kemenangan penaklukan Mongol (Parang Ain). Semua terjadi pada bulan Ramadhan.
Rasulullah saw mengabarkan, bahwa orang-orang yang berpuasa dalam keadaan jihad fisabilillah pasti dijauhkan dari siksa api neraka sejauh-jauhnya. Beliau bersabda:
“Tidaklah seorang hamba berpuasa satu hari dalam jihad fisabililah, melainkan pada hari itu Alloh menjauhkan wajahnya dari neraka sejauh perjalanan 70 tahun.” (HR Bukhari,Muslim dan at Tirmidzi)
Setelah berjuang keras bak singa pada siang hari,malam harinya Rasul dan para Sahabat melakukan Qiyamul lail,shalat Tarawih berjamaah dengan penuh kekhusyukan. Mereka menghabiskan beberapa saat tengah hingga akhir malam untuk bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Alloh SWT dengan Qiyamul lail dan membaca Al Qur’an.
Menghidupkan Bulan Suci Ramadhan
Kata menghidupkan bersifat mendasar,mendalam hingga ke relung-relung hakikat. Kata menghidupkan mewakili makna substansial (yang menjadi fitrah kejadian) dari sesuatu. Meniscayakan pelakunya untuk secara totalitas dengan apa yang dihidupkannya pada bulan Ramadhan itu sendiri.
Menghidupkan bulan Ramadhan yakni dengan melakukan amalan-amalan penting diantaranya adalah Shaum (puasa). Shaum dalam bahasa Al Qur’an berasal dari kata sha-(a)-ma,ya-shuw-mu yang artinya qil’anil fi’li (berhenti dari suatu pekerjaan). Jadi puasa secara terminologis adalah koma,jeda,atau sikap berhenti sejenak dari suatu kegiatan yang bersifat rutin yang kadang tanpa kita sadari menjadi dinding yang ‘masif’ yang menghalangi kita melihat realitas lain di luar dinding. Kemudian, kegiatan rutin setelah berjalan sekian lama cenderung menyebabkan terjadinya kebosanan jiwa yang berakibat pada stres atau depresi.
Shaum (puasa) adalah kewajiban utama khusus bagi mereka yang beriman dalam bulan Ramadhan yang dilakukan atas dorongan iman agar peroleh derajad taqwa (QS A Baqarah<2>:183). Tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa seperti berbohong dan berghibah (membicarakan kejelekan orang lain/ngrasani).(HR Ibnu Hiban,Ibnu Khuzaimah,Bukhari Muslim dan Ahmad). Makan sahur di akhir waktu karena di dalamnya penuh dengan keberkahan. Memperbanyak istighfar,dan memanjatkan segala doa hanya kepada Alloh SWT (HR Ahmad dan At Tirmidzi).
Membayar zakat fitrah pada hari-hari terakhir bulan Ramadhan adalah kewajiban yang harus dipenuhi oleh umat Islam laki-laki maupun perempuan,dewasa maupun balita (HR Bukhari dan Muslim). Zakat Fitrah ini juga berfungsi sebagai pelengkap penyucian diri untuk pelaku puasa dan juga untuk membantu fakir miskin (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah).
Melakukan Tilawah,Tadarus Al Qur’an dan Shalat tarawih. Sebagaimana yang dilakukan Rasulullah saw. Tilawah adalah membaca Al Qur’an dari awal hingga hatam,selanjutnya mengulang kembali. Diriwayatkan, Imam Syafi’i sedikitnya 60 kali menghatamkan Al Qur’an selama bulan Ramadhan. Adapun Tadarus Al Qur’an adalah membaca Al Qur’an serta mengkaji dan mendalami maknanya dengan bimbingan seorang mufassir (ahlinya).
Kemudian pada malam harinya bersama-sama menegakkan Shalat Tarawih (Qiyamul Lail) dengan penuh keimanan dan pengharapan serta keikhlasan kepada Alloh SWT. Keikhlasan kepada Alloh SWT adalah ruh ketaatan, inti kedekatan, kunci diterimanya ibadah, dikabulkannya doa, serta sebab datangnya pertolongan Alloh SWT dengan segera.
Melakukan I’tikaf Ramadhan terutama pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, yakni berdiam diri di dalam masjid dengan adab tertentu untuk beribadah kepada Alloh SWT.
“Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam. Tetapi janganlah kalian mencampuri istri kalian sementara kalian sedang ber-i’tikaf di masjid. Itulah larangan Alloh, maka janganlah kalian mendekatinya. Demikianlah Alloh menerangkan ayat-ayat-NYA kepada manusia,mudah-mudahan mereka bertaqwa.” (QS Al Baqarah<2> : 187)
“Sesungguhnya Nabi saw melakukan I’tikaf disepuluh hari terakhir dalam bulan Ramadhan. Beliau melakukan amalan ini hingga akhir hayatnya. Kemudian amalan tersebut dilanjutkan oleh istri-istrinya.” (HR Bukhari Muslim)
Dalam rangka menghidupkan Bulan Suci Ramadhan dengan ber’Itikaf pada sepertiga akhir bulan, mudah-mudahan kita peroleh Malam Lailatul Qadr, yaitu suatu malam yang nilainya lebih mulia dari seribu bulan, suatu malam yang penuh berkah.
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada Lailatul Qadar. Dan tahukah kamu apakah Malam Kemuliaan itu? Malam Kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah malam itu sampai terbit fajar.” (QS Al Qadr<97> : 1-5).
Karena itu sahabat, tidak ada salahnya bukan apabila mulai sekarang kita mempersiapkan dan berbenah diri sebaik-baiknya untuk menyambut Bulan Suci Ramadhan. Mudah-mudahan kita semua sampai di bulan yang penuh keberkahan tersebut,serta atas Ridha Alloh SWT mampu menggapai Malam Lailatul Qadar. Amien. Marhaban Ya Ramadhan.
(Web Hidup Mulia, diringkas dari berbagai sumber yang shahih).– Mobil Keluarga Ideal Terbaik Indonesia
No Related Posts.
Doa di saat Malam Lailatul Qadar:”Alloh humma innaka a’fuu wun tu hibbul ‘afwaa faa’fu ‘annii.” (Ya Alloh,sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf,maka maafkanlah hamba)
Assalamu’alaikum wr. wb.
Terima kasih sekali atas perhatian Ibu. Mohon maaf baru bisa menemui malam ini. Mudah-mudahan Ibu sekeluarga dalam lindungan Allah SWT.
Uraian tentang puasa Ramadhan di atas cukup lengkap. semoga kita bisa menjalaninya dengan baik dan mencapai tujuan ibadah tersebut.
Tidak sedikit di masyarakat Muslim kita yang ibadahnya hanya sekedar mengharapkan pahala saja, tidak begitu memperdulikan apakah ibadahnya itu punya dampak bagi kehidupan dirinya atau lingkungannya.Padahal semua ibadah dalam Islam bersifat transformatif.Dan itu dijelaskan sendiri oleh Allah dan rasul-Nya.
Puasa bertujuan untuk membina ketakwaan dan agar hidup kita sehat. Tujuan pertama ditetapkan Allah dan yang kedua dinyatakan oleh Rasulullah SAW.
Tujuan itu memang sulit untuk dicapai, tapi kita tetap wajib mengusahakannya dengan sebaik mungkin. Tahun lalu saya pernah memposting tulisan yang berjudul “Berpuluh Tahun Belum Sampai Juga”. naksudnya walau sudah berpuluh tahun menjalani puasa tapi belum juga mencapai derajat takwa.
Mudah-mudahan Ramadhan tahun ini kita bisa menjalaninya dengan lebih baik lagi. Dan semoga kita dapat meraih keutamaan bulan Ramadhan. Amin.
Terima kasih.
Salam dari Cianjur
Abdul Aziz>>Terima kasih Pak dengan comment yang begitu menggugah. Semoga saja tulisan ini memenuhi kebutuhan umat akan informasi tentang Ramadhan. Mungkin banyaknya kata kunci yang masuk dalam “Incoming search terms for the article” yang sempat nyasar ke Web Hidup Mulia,mewakili banyaknya kebutuhan informasi tentang ibadah Ramadhan? Wallahu ‘alam.
Alhamdulillah.. akan datang lagi bulan yang penuh berkah yang dinantikan setiap
insan beriman, masih diberikan kesempatan pada kita untuk memperbaiki
kekhilafan pada masa2 yang lalu, untuk itu dari segenap hati dan jiwa raga
ini memohon dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya untuk saya pribadi
dan keluarga, atas segala tindak tanduk serta tutur kata yang telah
menyinggung perasaan baik secara langsung maupun tidak langsung yang
disadari maupun tidak disadari, sekali lagi mari kita berbagi dalam
menghadapi bulan yang selalu dinanti
Izinkan saya mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi semua kawan
dan relasi yang mejalaninya. Semoga Allah mengampuni dosa2 besar kita dan
menerima sekecil apapun ibadah kita serta melimpahkan rahmat dan petunjuknya
kepada kita semua
Amien… amien… ya robbal allamin…
torik >> Semoga ibadah kita semua diterima oleh ALLOH SWT. Amien.
>>Salah satu tanda2 peroleh Lailatul Qadr>>”Yaitu mereka yang apabila disebut nama ALLOH gemetar hatinya,apabila dibacakan kepada mereka Ayat2-NYA bertambah imannya;dan hanya kepada TuhanNYA mereka berserah diri (QS8:2)
Semoga kita mampu menggapai Lailatul Qadr.Amien :toast