Sahabat, disaat kini sedang menunaikan ibadah puasa Ramadhan, kadang saya bertanya mengapa ibadahI’tikaf Ramadhan pada sepuluh hari terakhir kurang begitu populer di tengah-tengah masyarakat tanah air tercinta?
Tentu kita tahu sahabat, bahwasanya Al Qur’an menyebutnya beberapa kali,meskipun tidak dalam bentuk kutiba (yang diwajibkan seperti dalam perintah puasa). Atau fi’il amr (kata kerja perintah, seperti dalam shalat dan haji). Saat Nabi Ibrahim berhasil menunaikan beberapa perintah Alloh termasuk diantaranya membangun Baitullah bersama putranya Nabi ismail, Alloh lalu memerintahkan kepada keduanya agar tetap mensucikan Rumah Alloh tersebut agar terlaksananya tiga kegiatan ibadah yakni Tawaf, I’tikaf dan Shalat.
“Dan (ingatlah) Kami menjadikan Rumah itu (Batullah), tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim sebagai tempat shalat. Dan Kami telah membuat perjanjian dengan Nabi Ibrahim dan Ismail agar mensucikan Rumah-KU untuk mereka yang thawaf, yang i’tikaf, yang rukuk dan yang sujud.” (QS Al Baqarah<2> : 125).
Sahabat, ayat ini secara eksplisit begitu gamblang menyebutkan bahwa salah satu fungsi tempat ibadah adalah I’tikaf. Tetapi kini, dimanakah fungsi itu berada? Jarang kita temukan penerapan I’tikaf dalam arti yang sebenarnya.
Berikut di dalam Al Qur’an Surat Al Baqarah ayat 187 yang menerangkan secara detil pelaksanaan puasa beserta hal-hal yang terkait, juga begitu sangat jelas bersambung dengan ibadah I’tikaf.
“Dihalalkan bagi kalian pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri kalian. Mereka adalah pakaian bagi kalian dan kalian (juga) pakaian bagi mereka … Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam, tetapi janganlah kalian mencampuri mereka (istri kalian) sementara kalian sedang i’tikaf di masjid. Itulah larangan Alloh, maka janganlah mendekatinya. Demikianlah Alloh menerangkan ayat – ayatNya kepada manusia, mudah – mudahan mereka bertaqwa.”
Rasulullah SAW pun memberi ketauladanan ber-I’tikaf selama sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, sepanjang hayat hingga wafat sebagaimana diriwayatkan dalam Hadist Riwayat Bukhari dan Muslim. Pula,
“Rasulullah SAW biasa ber-I’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan tatkala pada tahun beliau wafat beliau ber-I’tikaf selama 20 hari” (HR Abu Hurairah r.a.)
Sesudah beliau wafat para sahabat dan istri-istri beliau senantiasa melaksanakan I’tikaf.
Sahabat, sekarang marilah kita mencoba mengkaji dan mengambil hikmah serta pelajaran dari dua ayat QS Al Baqarah ayat 183 yang menjadi dasar perintah shalat bagi segenap orang – orang yang beriman. Disana Alloh menutup ayatNya dengan kalimat : “mudah-mudahan kalian bertaqwa”, dan pada ayat 187 yang dikutip terakhir, Alloh menutup ayatNya dengan kalimat yang hampir sama “mudah – mudahan mereka bertaqwa”. Apa maknanya bagi kita? Kiranyauntuk mencapai derajad taqwa yang diinginkan pada QS Al Baqarah ayat 183 sebagai hamba Alloh yang Muttaqin haruslah menjalani amalan ibadah yang disebutkan pada surat yang sama ayat 187, termasuk I’tikaf didalamnya. Ini suatu keniscayaan.
Pengertian I’tikaf
Sahabat, Ayat – ayat di dalam Al Qur’an berikut ini mengandung kata yang seasal dengan kata I’tikaf – kebanyakan digunakan dalam bentuk faa’il(pelaku, tunggal dan jamak) dan fi’il(kata kerja): ya’kufuuna (QS Al A’raf (7) :138): ‘aakifiina (QS taahaa (20): 91); ‘aakifaan (QS Taahaa(20):97); ‘aakifuun (QS Al Anbiya’ (21) : 52). ‘aakifu (QS Al Hajj (22):25); ‘aakifiina (QS Asy Syu’ara’ (26):71).
Dari enam ayat tersebut. Lima ayat diantaranya mengartikan I’tikaf adalah menyembah dengan tekun, dan ‘aakifu (QS Al Hajj(22):25) diartikan sebagai yang bermukim.
Sehingga pengertian I’tikaf adalah berdiam diri di masjid dalam waktu beberapa hari untuk beribadah dengan tekun, bertafakur (perenungan tentang diri) – QS Adz Dzaariyaat (51) : 21 dalam rangka bertaqarrub kepada Alloh SWT.
Tempat I’tikaf
Sahabat,berdasar sunnah yang dicontohkan Nabi Muhammad saw sepanjang hidupnya di Madinah, beliau secara istiqomah melakukan I’tikaf di masjid. Penekanan masjid sebagai tempat I’tikaf menjadi sangat penting mengingat tempat tinggal Nabi sesungguhnya bersambung dengan masjid, kemudian istirahat dan tidur di rumahnya?
Itu pertanda bahwa masjid adalah satu-satunya tempat yang bisa digunakan untuk I’tikaf . Tentu masjid yang memiliki fasilitas yang memungkinkan bagi orang untuk tinggal beberapa hari di sana.
Oleh karena seluruh kegiatan kehidupan dilakukan di masjid, maka cara tidurpun harus benar, posisi baring yang teratur serta kaki tidak boleh menghadap kiblat. Posisi tidur yang baik menurut as sunnah adalah kepala di utara atau di bagian kiblat.
Lamanya I’tikaf
Saahabat,waktu I’tikaf yang paling masyhur adalah sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Tetapi bila ada pertanyaan : “Bagaimana bila saya hanya memiliki waktu di malam hari saja?” Jawabannya : “Tidak masalah. Kata hikmah mengajari kita sebuah prinsip, kalau tidak mampu mengambil semuanya, jangan tinggalkan semuanya.”
Wanita ber-I’tikaf
Sahabat,Hadist Nabi yang menyatakan bahwa istri-istri beliau ber-I’tikaf setelah beliau wafat mengindikasikan bahwa I’tikaf bukan hanya untuk kaum laki-laki. Di dalam QS Al Ahzab(33) ayat 35 bahwa laki-laki dan perempuan sama kedudukannya dalam pandangan Alloh, yang membedakan hanyalah kondisi biologis kemudian berimpikasi pada perbedaan kewajiban sosial dan kerumahtanggaan. Disamping itu, Alloh mensucikan dan melebihkan seorang wanita bukan dengan cara mengisolasikannya dari ruang publik, tetapi justru dengan memerintahkan wanita terlibat di sana (berjamaah). (QS Ali Imran (3) : 43).
Malam Lailatul Qadr
Sahabat,Alloh SWT sangat memuliakan atas Laialtul Qadr yakni suatu malam yang lebih mulia dari seribu bulan, khayrun min alfi syahr. Ber-I’tikaf merupakan upaya optimal bagi orang-orang beriman untuk meraih Lailatul Qadr.
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan (inzaal) pada Lailatul Qadr. Tahukah kamu (Muhammad) apakah Lailatul Qadr itu? Lailatul Qadr itu lebih mulia dari seribu bulan. Malaikat-malaikat dan roh turun pada malam itu dengan izin Tuhannya dengan membawa segala urusan. Kedamaian (terjadi) pada malam itu hingga terbit fajar.” (QS Al Qadr (97) : 1-5)
Secara harfiah Lailatul Qadr artinya “malam tertentu”. Juga berarti laylatun mubarakah (malam yang penuh berkah) (QS Ad Dukhaan) (44) :3).
Lailatul Qadr diturunkan atas izin Alloh kepada individu-individu, karena itu yang merasakan hanya mereka yang memperoleh anugerah Lailatul Qadr Salaamun hiya hatta mat la’il fajr, suatu kedamaian atau kenikmatan hakiki. Lailatul Qadr dicapai dengan cara meluruskan niat hanya karena Alloh SWT semata dan ikhtiar optimal yakni puasa Ramadhan, kemudian menegakkan Qiyamul Lail dengan menghidupkan sepanjang rentang bulan Ramadhan disertai ta’lim (belajar), bertasbih, bertafakkur, qiraah (tadarrus dan telaah) Al Qur’an, dan berdzikir sebanyak-banyaknya :
“Allah humma innaka a’fuu wun tuhibbul ‘afwaa faa’fu ‘annii” (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, maka maafkanlah daku)
Formula ‘no pain no gain’ ada di sini (tiada pencapaian dalam bentuk pencerahan spiritual tanpa pencerdasan – tanpa ada usaha maksimal yang mendahuluinya).
Tanda-tanda Lailatul Qadr
Sahabat,Al Qur’an menyebut ciri-ciri hamba Alloh yang mampu menangkap dan memperoleh Lailatul Qadr dengan caranya sendiri:
- yaitu orang-orang yang beriman kepada Alloh, Hari Kemudian, Malaikat-Malaikat, Kitab-Kitab, Nabi-Nabi (QS Al Baqarah (2) : 177). Mereka yang beriman kepada Alloh dan Rasul-RasulNya kemudian tidak ragu-ragu, lalu mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Alloh (QS Al Hujurat (49) :15).
- Yaitu mereka yang mendirikan shalat (QS Al Baqarah (2) : 3, 177), (QS Al Anfal (8) :3), Khusyuk dalam shalatnya (QS Al Mu’minun (23) : 2). Yang menunaikan zakat (QS Al Baqarah (2) : 177), (QS Al Mu’minun (23) : 4), Orang-orang menginfakkan hartanya di jalan Alloh baik di waktu lapang maupun sempit (QS Ali Imran (3) : 134).
- Yaitu mereka yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran (QS Ali Imran (3) :110).
- Yaitu orang-orang yang menepati janji apabila berjanji dan orang-orang yang sabar kesempitan, penderitaan, dan saat ditimpa musibah. (QS Al Baqarah (2) :177). Dan mereka yang takut kepada Allah dan melaksanakan perintah-Nya (QS An Nahl (16) :50), sehingga mereka mampu menahan diri dari keinginan hawa nafsunya (QS An Nazi’at (79) : 40.).
- Yaitu mereka yang bersikap lemah lembut dan saling mengasihi sesama mukmin, berwibawa di hadapan orang-orang kafir, berjihad di jalan Alloh, dan tidak takut terhadap celaan orang-orang yang mencela (QS Al Maaidah (5) : 54).
- “Yaitu mereka yang apabila disebut nama Alloh gemetar hatinya, apabila dibacakan kepada mereka Ayat-ayatNya bertambah imannya; dan hanya kepada TuhanNya mereka berserah diri.” (QS Al Anfal (8) : 2).
- “Yaitu orang-orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan sia-sia (QS Al Mu’minun (23) : 3). Dan “Orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji mereka mengingat akan Alloh, lalu (segera) memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka”. (QS Ali Imran (3) : 135).
- Yaitu mereka yang mematuhi larangan Alloh untuk tidak mencampur-adukkan kebenaran dengan kebatilan. (QS Al Baqarah (2) : 42).
- Yaitu mereka yang patuh terhadap larangan untuk tidak memakan harta dengan jalan yang batil (korupsi, manipulasi,suap-menyuap) (QS An Nisa’ (4) : 29).
- “(Yaitu) orang-orang yang mengingat Alloh sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring; sementara mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia” (QS Ali Imran (3) : 191). Dan “orang-orang yang memelihara kemaluannya” (QS Al Mu’minun (23) : 5).
Demikian sahabat, semoga artikel I’tikaf Ramadhan ini bermanfaat bagi kita semua, dan atas RidhaNYA semoga kita termasuk hamba Alloh yang mampu menangkap Malam Lailatul Qadr. Amien. Wallahu a’lam bish shawab.
(Web Hidup Mulia, disarikan dari berbagai sumber shahih).–
Related posts:


Atas RidhaNYA semoga kita termasuk hamba Alloh yang mampu menangkap Malam Lailatul Qadr. Amien.Web Hidup Mulia
“Yaitu orang-orang yang menepati janji apabila berjanji dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan,penderitaan,dan saat ditimpa musibah. (QS Al Baqarah (2) :177.” I’tikaf Ramadhan
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ.
Rasulullah saw. bersungguh-sungguh dalam beribadah pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, hal yang tidak beliau lakukan pada malam yang lainnya (HR Muslim, at-Tirmidzi dan Ahmad).
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Barangsiapa melaksanakan shalat pada Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni (HR al-Bukhir, Muslim, Abu Dawud, an-Nasa’i dan Ahmad). :rate
اَلصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلاَ يَرْفَثُ وَلاَ يَجْهَلُ فَإِنْ اِمْرِؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ
Shaum itu adalah benteng (junnah). Maka dari itu, orang yang sedang shaum hendaknya tidak berkata jorok dan tidak bertindak bodoh. Apabila ada pihak yang memeranginya atau mengejeknya maka katakanlah kepadanya, “Aku sedang berpuasa!” (HR al-Bukhari dan Muslim).
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بسم الله الرحمن الريم
تقبل الله منا ومنكم تقبل يا كريم
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته